TVRINews, Maluku
Kemarau panjang yang melanda Pulau Seram mulai berdampak terhadap sektor pertanian di Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku. Petani padi di Desa Waimital, Kecamatan Kairatu, kini terpaksa menerapkan sistem pengairan bergilir karena debit air untuk persawahan terus berkurang.
Kondisi tersebut membuat sejumlah petakan sawah dan saluran irigasi di Desa Waimital mulai mengering. Petani harus menunggu giliran hingga beberapa hari sebelum lahan kembali mendapatkan pasokan air.
Petani padi Desa Waimital, Slamet Riyadi, mengatakan saat ini setiap petakan sawah mendapatkan giliran pengairan sekitar lima hari sekali.
“Sekarang harus menunggu giliran air. Setelah dialiri, beberapa hari kemudian sawah kembali kering dan tanah mulai pecah-pecah,” ujar Slamet pada Rabu 2 September 2026.
Keterbatasan air tersebut mulai memengaruhi pertumbuhan tanaman padi. Tanaman yang seharusnya membutuhkan pasokan air secara cukup justru harus bertahan dalam kondisi tanah yang semakin kering.
Slamet menjelaskan, pembagian air dilakukan secara bergilir kepada seluruh petani di Desa Waimital agar setiap lahan tetap memperoleh pasokan air. Namun, debit air yang tersedia saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh persawahan secara optimal.
Kondisi kekeringan juga terlihat pada sejumlah parit yang menjadi sumber pengairan. Debit air yang menurun membuat petani harus menyesuaikan pola pengairan dengan kondisi sumber air yang tersedia.
Slamet mengkhawatirkan kondisi tersebut dapat memengaruhi hasil panen. Selain lahan cepat mengering, pertumbuhan tanaman padi juga terlihat lebih lambat dibandingkan kondisi normal.
Tanaman padi yang sedang dalam masa pertumbuhan membutuhkan air yang cukup. Namun, ketika tanah kembali kering setelah beberapa hari tidak mendapatkan pasokan air, perkembangan akar tanaman ikut terganggu.
Bagi petani di Waimital, kondisi ini menjadi tantangan tersendiri karena persawahan merupakan salah satu sumber penghidupan masyarakat setempat.
Sistem irigasi bergilir menjadi langkah sementara yang dilakukan untuk menjaga agar seluruh petani tetap memperoleh akses terhadap air di tengah kemarau panjang.
Kondisi tersebut juga menjadi gambaran dampak langsung musim kemarau terhadap produksi pangan di wilayah Seram Bagian Barat. Jika ketersediaan air terus menurun, produktivitas tanaman padi berpotensi ikut terdampak.
Petani berharap kondisi cuaca segera membaik sehingga debit air kembali meningkat dan sistem pengairan persawahan dapat berjalan normal.









