TVRINews, Warhati
Harga cabai di Desa Waehatu, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, melonjak di tengah musim kemarau yang berdampak pada produksi tanaman hortikultura. Harga cabai rawit kini mencapai Rp100 ribu per kilogram, sedangkan cabai keriting dijual sekitar Rp80 ribu per kilogram.
Kenaikan harga tersebut menjadi kabar baik bagi petani. Namun, mereka masih menghadapi tantangan berupa cuaca ekstrem dan meningkatnya biaya perawatan tanaman.
Salah seorang petani cabai di Waehatu, Sultony, mengatakan harga cabai keriting yang sebelumnya berkisar Rp20 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram kini naik menjadi sekitar Rp80 ribu per kilogram. Sementara itu, harga cabai rawit yang sebelumnya sekitar Rp50 ribu per kilogram kini mencapai Rp100 ribu per kilogram.
Menurut Sultony, kondisi cuaca yang ekstrem membuat petani harus meningkatkan intensitas perawatan tanaman, termasuk penyemprotan.

(Foto: Petani Waihatu, Sultony)
"Jika sebelumnya penyemprotan dilakukan satu hingga dua kali dalam seminggu, kini frekuensinya meningkat menjadi tiga kali seminggu," ujar Sultony
Di sisi lain, kenaikan harga pupuk dan obat-obatan pertanian turut menambah biaya produksi yang harus ditanggung petani. Kondisi ini membuat petani perlu mengeluarkan biaya lebih besar untuk menjaga tanaman tetap produktif di tengah cuaca yang kurang mendukung.
Sultony memperkirakan harga cabai masih berpotensi meningkat pada November hingga Desember 2026 apabila kondisi cuaca terus mengganggu produksi dan menyebabkan gagal panen.
Dampak kemarau juga dikhawatirkan meluas ke berbagai tanaman hortikultura lainnya yang mengalami kekurangan air. Jika kondisi tersebut berlanjut, produksi pertanian berisiko semakin terganggu.
Para petani berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap kondisi tersebut, terutama terkait kenaikan harga pupuk dan obat-obatan pertanian.
Dukungan terhadap kebutuhan produksi dinilai penting agar petani dapat menjaga produktivitas dan memperoleh manfaat dari kenaikan harga jual cabai di tengah risiko cuaca ekstrem.










