TVRINews, Maluku
Pagi itu, saat matahari belum tinggi, kawasan Lahasuang di Negeri Laha, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon, mulai menggeliat.
Deru ombak berpadu dengan kesibukan warga menyiapkan dagangan. Para nelayan yang baru kembali dari melaut membersihkan jaring, sementara sejumlah ibu bersiap menjajakan hasil laut dan kuliner kepada pengunjung.
Di antara suasana khas pesisir tersebut, Lahasuang menawarkan sesuatu yang berbeda. Bukan hanya pemandangan laut dan sajian kuliner, kawasan ini juga menghadirkan inovasi pengelolaan sampah plastik melalui ecobrick. Botol plastik bekas yang diisi cacahan plastik hingga padat dimanfaatkan sebagai bagian dari dinding lapak kuliner.
Inisiatif ini berangkat dari persoalan sampah kiriman yang kerap mencemari pesisir Laha. Pemuda Negeri Laha berupaya mencari solusi, pemerintah negeri mendukung pengembangan kawasan, sementara Pertamina Patra Niaga AFT Pattimura turut memberikan pendampingan melalui program pemberdayaan masyarakat.

Bagi masyarakat pesisir, persoalan sampah plastik tidak selalu selesai hanya dengan membersihkan pantai. Arus laut dapat kembali membawa sampah dan meninggalkannya di sepanjang garis pantai. Kondisi tersebut juga dihadapi warga Negeri Laha yang kehidupannya erat dengan laut.
Sulaiman Mewar, tokoh pemuda Negeri Laha, menuturkan bahwa tumpukan sampah plastik yang terdampar mendorong pemuda setempat mencari cara untuk memanfaatkannya.
Melalui komunikasi dan keterlibatan Pertamina dalam program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR), muncul gagasan mengolah plastik menjadi material yang masih memiliki nilai guna.
Prosesnya membutuhkan ketekunan. Plastik yang terkumpul dipilah dan dibersihkan, kemudian dicacah menjadi bagian-bagian kecil. Cacahan tersebut dimasukkan ke dalam botol bekas air mineral hingga padat. Botol-botol itu selanjutnya digunakan sebagai bagian dari dinding lapak kuliner di Lahasuang.
Metode tersebut dikenal sebagai ecobrick. Penerapannya di Lahasuang menjadi salah satu upaya mengurangi sampah plastik yang tercecer sekaligus menghadirkan unsur berbeda pada ruang usaha masyarakat.
Bagi para pemuda, inovasi ini bukan sekadar kegiatan mengumpulkan plastik dan memasukkannya ke dalam botol. Lebih dari itu, ada upaya membangun kebiasaan baru di tengah masyarakat, mulai dari memilah sampah, mengolahnya, hingga melihat peluang pemanfaatan dari sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak berguna.
Sulaiman melihat perubahan pada aktivitas kawasan sejak lapak kuliner hadir. Lahasuang yang sebelumnya relatif sepi mulai menarik perhatian lebih banyak pengunjung. Sebagian datang karena penasaran dengan pemanfaatan ecobrick, sedangkan lainnya tertarik menikmati kuliner dan suasana pesisir.
Pengembangan Lahasuang tidak berhenti pada pengolahan sampah. Kawasan ini juga diarahkan menjadi ruang usaha yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Kepala Pemerintah Negeri Laha, Muhammad Yasir Mewar, menjelaskan bahwa dukungan Pertamina melalui program CSR dimulai pada 2025, antara lain melalui pembangunan lapak kuliner. Salah satu unsur yang menonjol ialah penggunaan botol berisi cacahan plastik sebagai bagian dari material dinding.

(Foto: Kepala Pemerintah Negeri Laha, Muhammad Yasir Mewar (kiri))
Bagi Pemerintah Negeri Laha, pengembangan kawasan kuliner membuka kesempatan bagi warga untuk memanfaatkan potensi pesisir. Hasil laut dan makanan olahan dapat ditawarkan kepada pengunjung, sementara kegiatan berjualan memberi ruang bagi masyarakat untuk memperoleh penghasilan.
Yasir menuturkan, Lahasuang semakin ramai dikunjungi, terutama pada akhir pekan dan hari libur. Pengunjung tidak hanya berasal dari Negeri Laha, tetapi juga dari kawasan lain di Kota Ambon.
Pemerintah negeri berharap perkembangan tersebut dapat berlanjut melalui penataan kawasan dan peningkatan fasilitas pendukung. Kebutuhan air bersih serta rencana pengembangan lingkungan sekitar masih menjadi pekerjaan yang perlu ditindaklanjuti.
Bagi Pertamina Patra Niaga AFT Pattimura, persoalan sampah di Negeri Laha menjadi pintu masuk untuk mengembangkan program pemberdayaan yang menghubungkan kepedulian lingkungan dengan potensi sosial dan ekonomi masyarakat.
Annisa Salsabila, Community Development Officer Pertamina Patra Niaga AFT Pattimura, menjelaskan bahwa program Lau Sabua Manise telah memasuki tahun kedua pelaksanaan. Program ini berangkat dari kondisi pesisir yang terus menerima sampah kiriman dari laut, disertai persoalan penumpukan sampah di lingkungan masyarakat.

(Foto: Community Development Officer Pertamina Patra Niaga AFT Pattimura, Annisa Salsabila)
Di sisi lain, Negeri Laha memiliki potensi kelautan dan aktivitas ekonomi pesisir yang dapat dikembangkan untuk mendukung kehidupan warga. Melihat kondisi tersebut, Pertamina mendorong masyarakat agar sampah plastik tidak hanya dipandang sebagai limbah, tetapi juga dapat diolah menjadi material yang memiliki nilai guna.
Pendampingan dilakukan melalui sosialisasi, pengorganisasian kelompok pemuda, serta lokakarya pembuatan ecobrick yang melibatkan pemuda, masyarakat, ibu-ibu, dan anak-anak. Pelibatan berbagai kelompok ini diharapkan dapat memperluas pengetahuan tentang pengolahan sampah sekaligus menumbuhkan kebiasaan baru di lingkungan masyarakat.
Melalui proses tersebut, plastik yang telah dipilah dan dicacah dimasukkan ke dalam botol bekas air mineral hingga padat. Botol-botol itu kemudian dimanfaatkan sebagai bagian dari dinding lapak kuliner di Lahasuang. Dengan demikian, dukungan Pertamina tidak hanya berkaitan dengan pembangunan sarana fisik, tetapi juga proses pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan keterlibatan masyarakat.
Inovasi tidak berhenti pada bentuk bangunan, melainkan berlanjut pada upaya mendorong warga agar mengambil peran dalam pengelolaan sampah di lingkungannya.
Menurut Annisa, kesadaran masyarakat untuk mengolah sampah secara mandiri mulai meningkat. Warga semakin memahami bahwa plastik yang terkumpul dapat dimanfaatkan melalui proses pengolahan yang tepat. Perubahan perilaku ini menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga keberlanjutan program.
Dampaknya juga terlihat pada aktivitas ekonomi kawasan. Annisa menjelaskan, sebelum lapak kuliner hadir, hanya sekitar empat hingga lima ibu yang berjualan di lokasi tersebut. Pengunjung yang datang umumnya warga setempat dan nelayan yang singgah untuk sarapan.
Setelah lapak kuliner berkembang, pengunjung dari Kota Ambon mulai berdatangan. Informasi mengenai Lahasuang menyebar dari mulut ke mulut dan memperkenalkan kawasan ini sebagai salah satu tempat untuk menikmati kuliner pesisir. Kondisi tersebut membuka peluang usaha yang lebih luas bagi para penjual lokal.
Bagi Pertamina, pengalaman di Lahasuang memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan dapat menjadi titik awal inovasi sosial dan ekonomi. Ketika masyarakat dilibatkan sejak tahap sosialisasi hingga penerapan, program pemberdayaan berpeluang menghasilkan manfaat yang melampaui pembangunan fisik.
Pendekatan ini sejalan dengan semangat Energizing Innovation, yakni mendorong gagasan yang berangkat dari persoalan nyata, mempertemukan dukungan dengan potensi lokal, serta membuka kesempatan bagi masyarakat untuk berperan dalam perubahan di lingkungannya.
Geliat Lahasuang menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Perubahan dapat tumbuh dari persoalan yang hadir setiap hari, dari plastik yang terdampar di pantai, pemuda yang mencari jalan keluar, hingga masyarakat yang bersedia terlibat.
Dukungan Pemerintah Negeri Laha dalam pengembangan kawasan, bersama pendampingan Pertamina Patra Niaga AFT Pattimura, mempertemukan dua kebutuhan, yaitu menjaga lingkungan dan membuka peluang ekonomi. Sementara itu, keterlibatan warga menjadi faktor penting dalam menentukan keberlanjutan upaya tersebut.
Meski demikian, ecobrick bukan satu-satunya solusi untuk mengatasi persoalan sampah plastik. Sampah yang terus terbawa arus laut tetap membutuhkan penanganan, sedangkan pengurangan plastik sekali pakai, pemilahan dari sumbernya, dan pengelolaan limbah secara konsisten masih diperlukan. Penggunaan ecobrick sebagai material bangunan juga perlu memperhatikan aspek keamanan, ketahanan, dan kesesuaian konstruksi.
Dari pesisir Negeri Laha, harapan itu dirajut bersama: lingkungan yang lebih terjaga, masyarakat yang semakin berdaya, serta peluang ekonomi yang tumbuh dari potensi lokal.










