TVRINews, Maluku
Erupsi Gunung Anak Krakatau dan sebaran abu vulkanik yang mengganggu operasional sejumlah bandara di wilayah Jawa dan Sumatra turut berdampak terhadap penerbangan dari dan menuju Ambon, Maluku.
Selama dua hari, sebanyak 14 penerbangan di Bandara Internasional Pattimura Ambon terdampak akibat gangguan operasional menyusul sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Pada Senin, 7 September 2026, sebanyak enam penerbangan terdampak, terdiri atas tiga penerbangan kedatangan dan tiga penerbangan keberangkatan. Kondisi tersebut berdampak terhadap sekitar 742 penumpang.
Airport Operation, Services and Security Division Bandara Pattimura Ambon, Ida Made Dwipayana, mengatakan dampak gangguan penerbangan telah terjadi sejak Minggu, 6 September 2026.
“Dapat kami sampaikan dari Bandara Pattimura Ambon, dalam hal ini PT Angkasa Pura Indonesia Cabang Pattimura Ambon, dampak abu vulkanik sudah terjadi sejak hari Minggu dan hari ini, Senin, masih terdampak,” ujar Ida Made Dwipayana.

Menurutnya, pada Senin terdapat enam penerbangan yang terdampak.
“Untuk hari ini ada enam penerbangan, tiga datang dan tiga berangkat, dengan total penumpang yang terdampak sekitar 742 penumpang,” katanya.
Sementara itu, pada Minggu, 6 September 2026, terdapat delapan penerbangan yang terdampak, terdiri atas empat penerbangan kedatangan dan empat penerbangan keberangkatan. Jumlah penumpang yang terdampak pada hari tersebut mencapai sekitar 875 orang.
Maskapai, kata Ida, telah memberikan pelayanan kepada penumpang yang terdampak, termasuk pilihan untuk melakukan penjadwalan ulang penerbangan maupun pengembalian biaya tiket sesuai ketentuan yang berlaku.
“Dari pihak maskapai mereka sudah melayani penumpang, mengarahkan untuk reschedule ataupun refund sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” jelasnya.
Pihak Bandara Pattimura Ambon mengimbau calon penumpang untuk terus memantau perkembangan kondisi penerbangan dan berkoordinasi langsung dengan maskapai apabila terjadi perubahan jadwal.
Penumpang juga disarankan mempertimbangkan alternatif penerbangan melalui bandar udara lain apabila diperlukan, termasuk melalui Makassar atau Surabaya.
“Karena ini sifatnya alam dan kita tidak tahu perkembangannya, lebih baik penumpang berkoordinasi dengan maskapai untuk mengalihkan penerbangan melalui Surabaya ataupun Makassar,” ujar Ida.
Hingga Senin, belum ada kepastian kapan seluruh penerbangan yang terdampak dapat kembali beroperasi normal. Masyarakat yang akan melakukan perjalanan udara diimbau untuk memperoleh informasi terbaru dari maskapai sebelum menuju bandara.










